Rabu, 21 Juli 2010
Ceramah ceramah
http://www.4shared.com/audio/BGHodX6l/Nasehat_4___ust_robiyanto__.html
TEKNOLOGI TELEPORTASI DI DALAM AL-QUR’AN
Oleh: Ust. Abu Juwairiyah Robiyanto Ibrahim As-Salafy Al-Atsari
Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rahman Batudaa
Prolog
Sesungguhnya Agama Islam datang di sempurnakan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.”
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa islam mengajarkan segala sesuatu, baik masalah yang kecil sampai masalah yang sangat besar.Dan ayat ini menjelaskan kepada kita alangkah sempurnanya agama Islam di banding dengan agama yang lain.
Seharusnya sebagai seorang muslim hendaklah mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”1
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?”2
Dua ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa hendaklah sebagai seorang muslim, harus mengambil pelajaran dari Al-Qur’an agar tidak terjadi perselisihan yang sangat banyak dan tidak tertutup hati-hati kita.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”3
Al-Qur’an telah dimudahkan oleh Allah agar bisa diambil pelajaran, Karena sangat banyak yang telah dibuktikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, sebelum para ahli menjelaskan berbagai macam penemuan.Allah telah menjelaskan 14 abad yang lalu. Makanya Allah SWT berfirman :
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia.”4
Dan apabila orang yang memiliki pengetahuan hendaklah memberdayakan pengetahuannya. Karena penglihatan, pendengaran, dan hati akan di mintakan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Allah Swt berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”5
Maka Allah yang maha badi’ ( yang memulai segala sesuatu, dengan tanpa ada yang membuat sebelumnya ), dan ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, maka alangkah sombongnya seseorang yang merasa bangga dengan penemuan yang telah dia kuasai. Maka Islam-lah yang telah menjelaskan segala sesuatu. Maka pada tulisan kali ini kami akan menyuguhkan tentang Teknologi Teleportasi di dalam Al-Qur’an,selamat membaca…….
Pembahasan
Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya.
Definisi mengenai sains menurut Sardar (1987, 161) adalah sarana pemecahan masalah mendasar dari setiap peradaban. Tanpa sains, lanjut Sardar (1987, 161) suatu peradaban tidak dapat mempertahankan struktur-struktur politik dan sosialnya atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat dan budayanya. Sebagai perwujudan eksternal suatu epistemologi, sains membentuk lingkungan fisik, intelektual dan budaya serta memajukan cara produksi ekonomis yang dipilih oleh suatu peradaban. Pendeknya, sains, jelas Sardar (1987, 161) adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya. Sedangkan rekayasa, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) menyangkut hal pengetahuan objektif (tentang ruang, materi, energi) yang diterapkan di bidang perancangan (termasuk mengenai peralatan teknisnya). Dengan kata lain, teknologi mencakup teknik dan peralatan untuk menyelenggarakan rancangan yang didasarkan atas hasil sains.
Seringkali diadakan pemisahan, bahkan pertentangan antara sains dan penelitian ilmiah yang bersifat mendasar (basic science and fundamental) di satu pihak dan di pihak lain sains terapan dan penelitian terapan (applied science and applied research). Namun, satu sama lain sebenarnya harus dilihat sebagai dua jalur yang bersifat komplementer yang saling melengkapi, bahkan sebagai bejana berhubungan; dapat dibedakan, akan tetapi tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya (Djoyohadikusumo 1994, 223).
Makna Teknologi, menurut Capra (2004, 106) seperti makna ‘sains’, telah mengalami perubahan sepanjang sejarah. Teknologi, berasal dari literatur Yunani, yaitu technologia, yang diperoleh dari asal kata techne, bermakna wacana seni. Ketika istilah itu pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris di abad ketujuh belas, maknanya adalah pembahasan sistematis atas ‘seni terapan’ atau pertukangan, dan berangsur-angsur artinya merujuk pada pertukangan itu sendiri. Pada abad ke-20, maknanya diperluas untuk mencakup tidak hanya alat-alat dan mesin-mesin, tetapi juga metode dan teknik non-material. Yang berarti suatu aplikasi sistematis pada teknik maupun metode. Sekarang sebagian besar definisi teknologi, lanjut Capra (2004, 107) menekankan hubungannya dengan sains. Ahli sosiologi Manuel Castells seperti dikutip Capra (2004, 107) mendefinisikan teknologi sebagai ‘kumpulan alat, aturan dan prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara yang memungkinkan pengulangan.
Akan tetapi, dijelaskan oleh Capra (107) teknologi jauh lebih tua daripada sains. Asal-usulnya pada pembuatan alat berada jauh di awal spesies manusia, yaitu ketika bahasa, kesadaran reflektif dan kemampuan membuat alat berevolusi bersamaan. Sesuai dengannya, spesies manusia pertama diberi nama Homo habilis (manusia terampil) untuk menunjukkan kemampuannya membuat alat-alat canggih.
Dari perspektif sejarah, seperti digambarkan oleh Toynbee (2004, 35) teknologi merupakan salah satu ciri khusus kemuliaan manusia bahwa dirinya tidak hidup dengan makanan semata. Teknologi merupakan cahaya yang menerangi sebagian sisi non material kehidupan manusia. Teknologi, lanjut Toynbee (2004, 34) merupakan syarat yang memungkinkan konstituen-konstituen non material kehidupan manusia, yaitu perasaan dan pikiran , institusi, ide dan idealnya. Teknologi adalah sebuah manifestasi langsung dari bukti kecerdasan manusia.
Dari pandangan semacam itu, kemudian teknologi berkembang lebih jauh dari yang dipahami sebagai susunan pengetahuan untuk mencapai tujuan praktis atau sebagai sesuatu yang dibuat atau diimplementasikan serta metode untuk membuat atau mengimplementasikannya. Dua pengertian di atas telah digantikan oleh interpretasi teknologi sebagai pengendali lingkungan seperti kekuasaan politik di mana kebangkitan teknologi Barat telah menaklukkan dunia dan sekarang telah digunakan di era dunia baru yang lebih ganas. Untuk memperjelas statement tersebut, kita coba menelaah teknologi secara lebih dalam lagi. Melihat substansi teknologi secara lebih komprehensif, yaitu konsepsi teknologi dari kerangka filsafat.
Dasarnya adalah pada sejarah dan yang kedua pada Kitab Suci Al-Qur’an.
Peninggalan Sejarah
Begitu banyak peninggalan sejarah yang begitu banyak meninggalkan misteri karena begitu menakjubkannya. Sebagai contoh : Piramida di Mesir, Candi Boroboudur, Bangunan Suku Maya di Amerika Selatan, Kota Atlantik, Mesjid Sulaiman di Palestina dll. Semua peninggalan tersebut merupakan saksi bahwa perdaban di zaman dulu begitu majunya sehingga menghasilkan bangunan yang demikian hebat. Tidak hanya itu saja, dalam bukunya “A New Kind of Science”, Stephen Wolvram menunjukkan bahwa setiap hiasan yang terdapat pada bangunan-bangunan tersebut memiliki pola-pola tertentu yang ternyata merupakan konsep yang sangat fundamental dalam sains, yaitu cellular automata.
Menarik sekali kalau kita memikirkan cerita tentang Nabi Sulaiman di dalam Al-Qur’an. Yang perlu dicatat, Nabi Sulaiman di dalam Al-Qur’an tidak dicatat sebagai seorang raja yang istrinya banyak, tetapi Tuhan lebih menekankan kepada kemampuan Nabi Sulaiman dalam hal mengelola kerajaannya yang tidak diberikan kepada orang setelahnya.
Saya mencatat terdapat beberapa teknologi yang sudah pernah dicapai dalam masa Nabi Sulaiman :
Teknologi Teleportasi
Allah Swt. menyebutkan :
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (38) قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".”6
Menurut Hemat saya ( Penulis ),bahwa pada ayat ke 38 Nabi Sulaiman membuat tender kepada para pejabat-pejabat ketika itu, apakah ada diantara para pejabatnya yang dapat memindahkan singgasana ratu bilqis yang akan datang ke tempat Nabi Sulaiman sebelum ratu tersebut datang ke tempat Nabi Sulaiman. Kemudian yang pertama menanggapi tender tersebut adalah seorang/seekor jin yang paling jenius diantara para jin ketika itu dan beliau berjanji dapat memindahkan singgasana tersebut dalam durasi waktu antara Nabi Sulaiman duduk dan sesaat ketika beliau bangun dari tempat duduknya. Pada ayat ke 40, terdapat seorang yang berilmu yang hidup diantara buku-buku, yang berkata beliau dapat memindahakan singgasana tersebut dengan durasi waktu hanya antara kedipan mata. Dan yang perlu dicatat, bahwa yang dipindahkan adalah benar-benar barang, bukannya bayangan seperti sekarang.
Sebenarnya seperti kita ketahui, dalam konsep komputer kuantum, konsep teknologi teleportasi sudah dimungkinkan. Yang jelas ketika teleportasi ini sudah diaplikasi, teknologi informasi akan terancam bubar. Saya prediksi, komputer kuantum akan jadi bidang yang sangat populer setelah era bioteknologi.
Sebagai kesimpulan, bahwa teknologi juga telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an Bahkan kita di perintahkan untuk menksploitasi di dalam Al-Qur’an.
Ilmu dan teknologi telah disebutkan dalam ayat-ayat kauniyah. Kesemuanya itu Ilmu Allah yang bisa dipahami oleh manusia yang menggunakan pikiran dan hatinya dalam rangka bersyukur
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.7
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa asal manusia itu dilahirkan dalam keadaan bodoh, dan hendaklah kita mempelajari teknologi dengan memberdayakan 3 ( tiga ) potensi yang di berikan oleh Allah yaitu pendengaran ( telinga ), penglihatan ( mata ), dan pengolah data ( hati ).Dan sebagai tanda seseorang bersyukur kepada Allah adalah memberdayakan potensi yang diberikan oleh Allah tersebut.
Orang yang memiliki akal adalah orang yang berfikir dengan ciptaan Allah Swt dengan memberdayakan ciptaan Allah SWT agar bermanfaat bagi orang lain dan menggunakan potensi ciptaan Allah Swt dan senantiasa berdoa kepada Allah agar tidak menjadi makhluq yang sia-sia hidup. Allah SWT berfirman :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”8
فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ كَذَلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“ Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” 9
Menurut hemat saya sebagai penulis bahwa manusia ada yang pandai dan di atas orang pandai itu ada yang lebih pandai dan dalil ini juga memberikan pelajaran bagi kita bahwa teknologi akan selalu berkembang dengan berlalunya waktu. Maka sebagai seorang muslim hendaklah senantiasa mempelajari perkembangan teknologi.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”10
Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa orang yang bersungguh-sungguh dengan menggunakan harta dan diri mereka di jalan Allah adalah orang yang yang jujur. Sebaliknya orang yang tidak mempergunakan potensi yang ada pada diri mereka maka mereka bukanlah orang yang jujur.
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”11
Dari ayat diatas, menurut hemat saya ( sebagai penulis ) bahwa Manusia yang mau berpikir dan berdzikir serta mengamalkan hasil berpikirnya sesuai dengan tuntutan keimanan yang benar untuk kemaslahatan dan mengikuti yang lebih baik akan mendapatkan petunjuk atau hidayah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,”
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa pentingnya mengambil potensi diri kita agar kita mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan.Dan banyak yang di sebutkan oleh Allah, tatkala menyebutkan harta, maka membutuhkan diri kita.Maka hendaklah kita memberdayakan diri kita agar mendapat keberuntungan di dalam membuktikan penemuan dari kekuasaan Allah Swt.
Dalam kenyataan, tidak seluruh hasil pikiran manusia mencapai kemaslahatan. Sebab terkadang menurut manusia mendapatkan kemaslahatan, akan tetapi menurut Allah tidak akan mendapatkan kemaslahatan. Sebagaimana Allah SWT membantah kepada orang-orang munafiq atas perilaku mereka.Allah Swt berfirman :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آَمِنُوا كَمَا آَمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آَمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13)
“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.”12
Ayat di atas menjelaskan bahwa terkadang seseorang menganggap sesuatu itu baik, akan tetapi mnurut Allah tidak baik. Disebabkan karena niat buruk yang kita lakukan.Orang-orang munafiq menganggap bahwa mereka mengerjakan perbaikan, akan tetapi Allah membantah bahwa mereka bukanlah membuat kebaikan, tapi membuat kerusakan di muka bumi ini.
Telah terbukti bahwa teknologi yang muncul di zaman sekarang telah dijelaskan pada 14 abad yang lalu. Akan tetapi sebagian kaum muslimin tidak mengetahuinya disebabkan karena tidak mempelajari Islam secara sempurna
1 QS. An-nisa :82
2 QS. Muhammad :24
3 QS. Al-Qomar :17
4 QS. Al-Baqarah :117
5 QS. Al-Isra’ :36
6 QS. An-Naml :38-40
7 QS.An-Nahl:78
8 QS. Ali-‘Imron:190-191
9 QS. Yusuf :76
10 QS. Al-Hujurat :15
11 QS. Az-Zumar :18
12 QS. Al-Baqarah :12-13
TERNYATA MATAHARI MENGELILINGI BUMI ( GEOSENTRIS )
Oleh : Ust. Abu Juwairiyah Robiyanto Ibrahim As-Salafy Al-Atsari
Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rahman Batudaa
MuqoddimahAda ungkapan penyair arab :
كم من عائب قولا صحيحا # وأفاته من الفهم السقيم
“Berapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar disebabkan karena pemahaman yang keliru”
الإنسان عدو لما جهل به
“Manusia itu memusuhi yang dia tidak ketahui”
Berdasarkan syair di atas, maka penulis akan memaparkan tentang “matahari mengelilingi bumi”. Adapun alasan penulis memilih judul ini adalah sebagai berikut:
Membuktikan kekuasaan Allah SWT
Allah SWT berfirman :
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” ( QS. Al-Baqarah :147 )
Membuktikan kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah
Allah SWT berfirman :
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرا
"Maka apakah mereka tidak mempelajari Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. ( QS. An-Nisa’ :82 )
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?” ( QS. Muhammad :24 )
Di dalam hadits Rasulullah :
َقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّه
“Sungguh aku tinggalkan kepada kalian, kalian tidak tersesat selamanya apabila berpegang teguh dengan Al-Qur’an” ( HR. Muslim : 2137 )
Memberikan pemahaman bahwa matahari mengelilingi bumi ( bukan sebaliknya )
Sebagai seorang Muslim hendaklah berkata sesuai yang diketahuinya. Karena berkata sesuatu tanpa ilmu itu merupakan sikap mendustakan atas nama Allah.
Allah SWT berfirman :
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” ( QS. Al-Isra’ : 36 )
وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” ( QS. An-Nahl : 116 )
Oleh sebab itu, agar tidak berkata tanpa ilmu, maka penulis akan mengetengahkan tentang “Matahari mengelilingi bumi” sebagai obat dari ketidaktahuan di dalam masalah ini, dan tidak termasuk Muqollid ( orang yang mengikuti sesuatu tanpa ilmu ) dan menjadi muttabi’ ( orang yang mengikuti sesuatu dengan ilmu ).
Pembahasan
Di dalam pembahasan ini terdapat dua point yang penting untuk pembahasan matahari mengelilingi bumi, yaitu :
Bumi tidak bergerak
Sebelum membahas matahari mengelilingi bumi, maka kami akan memaparkan bahwa bumi tidak bergerak.
Dalil pertama, Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” ( QS. Fathir : 41 )
Berkata Imam Malik :
“Langit ( termasuk bumi )tidak berputar”1
Dari dalil di atas terlihat jelas bahwa Allah menahan bumi dan langit sehingga tidak bergerak.
Dalil Kedua, Allah SWT berfirman :
وَأَلْقَى فِي الأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” ( QS. An-Nahl : 15 )
Berkata Imam Al-Baghowi :
“Agar tidak berguncang bersama kamu yaitu tidak bergerak dan tidak miring”2
Ayat ini menjelaskan tentang hikmah diciptakannya gunung-gunung, dan menjelaskan Allah menjaga agar bumi tidak guncang ( bergerak ).
Dalil ketiga, Allah SWT berfirman :
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”( QS. Luqman : 10 )
Berkata Imam At-Thobari :
أَنْ لاَ تَضْطَرِبَ بكم، ولا تتحرّك يمنة ولا يسرة، ولكن تستقرّ بكم
“Tidak bergoncang bersama kalian, dan tidak bergerak ke kanan maupun ke kiri, akan tetapi menetap bersama kalian”.3
أثبتها بالجبال، ولولا ذلك ما أقرّت عليها خلقا
“Menancapkan dengan gunung, seandainya bukan dengan itu, maka tidak ada makhluq yang hidup di atas bumi”4
Matahari mengelilingi Bumi
Dalil-dalil syariat secara lahir mengatakan bahwa matahari mengelilingi bumi, sehingga perputarannya itu menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di muka bumi. Kita tidak bisa membantah makna lahir dari dalil-dalil tersebut kecuali dengan dalil yang lebih kuat, yang memungkinkan kita menakwilkannya dengan takwil yang lebih kuat dari makna lahirnya. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari mengelilingi bumi sehingga menghasilkan pergantian malam dan siang itu adalah sebagai berikut:
Dalil pertama yaitu Allah SWT berfirman tentang hujjah Ibrahim kepada orang yang menyanggah Tuhannya,
فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." ( QS. Al-Baqarah : 258 )
Dari dalil di atas telah jelas kepada kita bahwa matahari yang bergerak. Apabila bumi yang bergerak maka disebutkan dalam ayat ini adalah bumi.
Dalil kedua yaitu Allah SWT juga berfirman tentang Ibrahim,
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
" Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." ( QS. Al-An’am : 78 )
Yang tenggelam adalah matahari bukan bumi, seandainya yang beredar adalah bumi tentu dikatakan bahwa ketika bumi tenggelam.5
Dalil ketiga yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
" Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." ( QS. Al-Kahfi : 17 )
Di dalam ayat ini apabila menyebutkan kata الشَّمْسَ maka akan bergandengan dengan kata طَلَعَتْ ( terbit )dan غَرَبَتْ ( terbenam ). Dengan dalil ini menunjukkan bahwa matahari mengalami pergerakan, dan bukan bumi yang bergerak.
Dalil ke empat yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya."( QS. Al-Anbiya’ :33 )
Dari dalil di atas, menunjukkan bahwa yang beredar itu adalah matahari dan bulan.Seandainya bumi yang berputar, maka tentulah Allah menyebutkan bahwa bumi.
Dan kata كُلٌّ adalah mengandung pengertian bahwa :
كل واحد من الشمس والقمر
“Setiap salah satu diantara matahari dan bulan”6
Dalil kelima yaitu Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam."( QS. Al-A’raf : 54 )
Dinyatakan bahwa malam meminta kepada siang dan peminta berarti yang datang berikutnya, padahal diketahui bersama bahwa malam dan siang, keduanya mengikuti matahari.
Dalil keenam yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُسَمًّى ألا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."( QS. Az-Zumar : 5 )
Firman Allah,"Dia menutupkan malam atas siang" atau mengelilinginya seperti surban yang mengelilingi kepala. Ini menunjukkan bahwa malam dan siang itu mengelilingi bumi secara bergantian. Seandainya yang berkeliling itu bumi, tentu dikatakan,"menjadikan bumi mengelilingi malam dan siang." Dalam firman Allah"masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan" menjelaskan pernyataan sebelumnya bahwa matahari dan bumi berjalan pada porosnya masing-masing, karena berjalanya sesuatu yang begerak dengan gerakannya lebih jelas daripada sesuatu yang berjalan di tempat tanpa gerak.
Dalil ketujuh, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا (2)
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya."( QS. Asy-Syams : 1-2 )
Kata talaha (mengiringinya) berarti datang sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa matahari dan bulan berjalan mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berputar mengelilingi keduanya, tidak mungkin bulan mengiringi matahari saja, tetapi kadang bulan akan mengelilingi matahari dan kadang mengelilingi bumi, karena matahari lebih tingi darinya.
Dalil ke delapan, firman Allah SWT:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (38) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39)لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40)
"Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya." ( QS. Yasin : 38-40 )
Penyandaran kata "berjalan" kepada matahari karena matahari adalah termasuk muannats majazi sehingga fi’il yang digunakan adalah fi’il mudhori’(تَجْرِي )dan perjalanannya telah ditetapkan waktunya oleh Allah ini menunjukkan bahwa matahari benar-benar berjalan dengan ketentuan yang canggih sehingga perjalanan itu menyebabkan adanya pergantian malam, siang dan musim. Menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah menunjukkan atas perpindahannya. Seandainya yang berputar itu bumi, tentu manzilah-manzilah itu ditetapkan untuknya, bukan bulan. Ketidakmungkinan matahari mendapatkan bulan dan pergantian malam dan siang menunjukkan adanya gerakan yang terdorong dari matahari, bulan, malam dan siang. Ayat ini menjelaskan kepada kita dengan tegas bahwa yang bergerak itu adalah matahari dan bulan.
9. Dalil ke sembilan, Dari Hadits Nabi:
“… maka Nabi itu pun berperang, dan dia mendekat pada desa yang dituju saat Shalat Ashar,maka dia berkata kepada matahari: “Engkau adalah makhluk yang diperintah dan saya pun diperintah, Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku sebentar.” Maka matahari itu pun ditahan sampai Allah memberikan kemenangan baginya. ” (Riwayat Bukhari)
Dalil ke sepuluh, Dalam sebuah hadits disebutkan,
عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ إِنَّ هَذِهِ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَخِرُّ سَاجِدَةً فَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا ارْتَفِعِي ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا ثُمَّ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَخِرُّ سَاجِدَةً وَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا ارْتَفِعِي ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا ثُمَّ تَجْرِي لَا يَسْتَنْكِرُ النَّاسَ مِنْهَا شَيْئًا حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ تَحْتَ الْعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا ارْتَفِعِي أَصْبِحِي طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ ذَاكَ حِينَ { لا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا }
"Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu berkata,'Suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,'Tahukah kamu ke mana matahari ini pergi?'Para sahabat menjawab,'Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui'. Lantas Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,'Perjalanan matahari ini berakhir di suatu tempat yang telah ditetapkan di bawah 'Arsy, lalu merebahkan diri untuk bersujud. Ia tetap berada dalam keadaan tersebut, sehinggalah diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.'Kemudian matahari kembali sehingga dia terbit dan berputar sebagaimana biasa. Matahari terus beredar lagi sehingga sampai di suatu tempat yang di tetapkan di bawah Arsy lalu merebahkan lagi dirinya untuk bersujud. Ia juga tetap berada dalam keadaan demikian hingga diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.'Matahari kembali lagi sehinggalah ia terbit dan berkeliling sebagaimana biasa tanpa diketahui oleh manusia dan berakhir pada tempat yang telah ditetapkan di bawah Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan demikian, sehingga akhirnya diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan terbitlah di sebelah barat'. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam terus bersabda,'Tahukah kamu kapankah itu akan terjadi? Itu akan terjadi ketika tidak berfaidah lagi iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau tidak berusaha mengerjakan kebaikan terhadap imannya'."( Hadits Muttafaqun ‘alaihi )
Sabda Rasulullah, "kembalilah ke tempat mana kamu datang, kemudian matahari kembali sehingga dia terbit" menunjukkan secara jelas bahwa matahari mengelilingi bumi yang meyebabkan matahari terbit dan tenggelam.
Realita yang terjadi
a. Siapapun akan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa matahari setiap pagi terbit dari ufuk timur lalu bergerak ke pertengahan lalu terbenam di barat. Itulah kejadian alam yang tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Itu sebagai bukti bahwa matahari yang bergerak. Namun kita diajarkan bahwa pergerakan matahari ke arah barat karena gerakan rotasi bumi. Lalu kalau ditanya kenapa yang terlihat bergerak itu matahari? Maka dijawab bahwa itu sama dengan seseorang yang naik mobil yang cepat, maka seolah-olah dia merasakan bahwa yang bergerak adalah pohon dan bangunan disekitarnya dan orang itu merasa kayaknya diam dalam mobil. Namun kalau difikirkan lebih lanjut bahwa secepat apapun mobil yang dinaiki seseorang, maka orang tersebut akan tetap merasakan bahwa dia bergerak.
b. Lihatlah awan yang ada di atas kita, dia tidak berada di bumi ataupun dilangit tetapi berada di antara keduanya. Lalu, mengapa awan itu terkadang bergerak ke barat atau ke timur, atau ke utara, atau ke selatan? Seandainya bumi berotasi maka mestinya awan itu bergerak sama dengan arah rotasi bumi. Tapi ternyata?
c. Jika kita naik pesawat misalnya dari Indonesia ke Saudi Arabia, lalu pesawat itu diarahkan ke atas sehingga keluar dari gaya gravitasi bumi, maka apakah pesawat itu butuh bergerak ke barat ataukah cukup diam di tempat menunggu bumi berotasi atau bagaimana?
Bagaimana sikap kita dalam masalah ini ?
Pada awalnya masyarakat memahami bahwa bumi mengelilingi matahari ( Heleosentris ), “Heleosentris” diambil dari bahasa yunani yaitu dari kata “helios” yang artinya matahari dan kentron artinya pusat.Sebenarnya terdapat beberapa ilmuwan muslim sejak zaman sebelum Copernicus membuat teori heleosentris,yang berhubungan dengannya diantaranya:
Al bairuni (973-1048 M): yang menyatakan tentang pengukuran posisi bintang, bahwa bumi bundar, bumi berputar pada sumbunya bukan langit yang mengelilingi bumi, bahwa bumi mengelilingi matahari, juga orbit planet yang berbentuk lingkaran dan elips,
Al Batani (858-929 M) / Albategnius ilmuwan pertama muslim kita yang mengukur dengan sangat cermat bahwa panjang tahun adalah 365 hari 5 jam 46 menit 24 detik,
Az Zarqoni (1025-1087 M) yang mendahului Kepler dengan menyatakan bahwa planet itu mengelilingi matahari dengan lintasan elips.
Dan ilmuan non muslim diantaranya :
Nicolaus Copernicus (1473-1543 M) –de revolutionibus orbium caelestium 1507 M. ini adalah judul bukunya yang masuk dalam daftar index libiurum prohibition (1616-1757 M) yaitu buku-buku yang dilarang untuk dibaca dan di edarkan yang kemudian dikenal dengan nama (system Copernicus). Maka dialah yang berpendapat bahwa pusat peredaran benda antariksa adalah matahari dan dinamakan (heleosentris),
Giordono Bruno ( 1544-1600 M) yang dihukum bakar oleh gereja karena mengajarkan teori ini.salah satu ancaman gereja karena melanggar apa yang aturan gereja buat,
Galileo Galilei ( 1564-1642 M ) (lahir di pisa,toscana, 15 Februari 1564 – meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun)yang diinkusisi (dengan meminum racun) oleh pihak gereja karena menyerukan teori heleosentris dan bumi itu bulat. Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.
Setelah pendapat yang keluar dari Philolaus pada akhir abad 5 bahwa pusat peredaran benda antariksa ditempati oleh pusat api raksasa (ahluge central fire) yang kemudian dinamakan (center earth) munculah teori Geosentris pada abad pertengahan diambil dari kata “Geo” artinya tanah dan “sentries” artinya pusat.dan sering disebut juga system ptomeleus seprti dalam bukunya yang berjudul “ALMAGEST” dan berikut beberapa dukungan yang menguatkan teori geosentris dari beberapa ilmuwan dan dari pihak gereja yaitu sebagai berikut :
Pihak gereja yang sedang berkuasa kecuali Biarawan Koppernigk: teori ini telah dianut sejak lama hingga muncul Coppernicus (16 M)
Aristoteles (348-322 SM): dalam buku berjudul “Physica”
Iskandar Ptolomeus (151-127 SM): sehingga teori geosentris bertahan selama 12 abad,
Claodeus ,ahli matematika dan ilmu bintang yang mengemukakan bahwa bumi menempati kedudukan sebagai pusat peredaran benda antariksa,
Berangkat dari ulasan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan ini, maka penulis bukanlah mengajak kepada doktrin gereja, akan tetapi mengikuti Al-Qur’an dan Hadits yang disertai dengan pembuktian sesuai dengan realita. Mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa keyakinan ini (matahari mengelilingi bumi) sama dengan keyakinan agama Kristen yang ada di dalam kitab injil pada abad pertengahan.
Perlu diketahui, bahwa menurut keyakinan seorang muslim kitab Injil yang ada sekarang ini sudah tercampur antara firman-firman Allah dengan ayat-ayat yang dibuat oleh tangan-tangan kotor manusia. Lalu bagaimana kita bersikap apabila ada cerita-cerita dari injil? Bisa dijawab bahwa di masalah tentang injil ini? Maka perinciannya sebagai berikut :
Jika di dalam injil terdapat keterangan yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka kita wajib meyakini bahwa hal itu adalah firman Allah. Misalnya di dalam Injil ada keterangan bahwa Allah itu satu maka kita harus meyakini bahwa itu adalah firman Allah.
Jika di dalam Injil terdapat keterangan yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka kita tidak boleh membenarkannya dan wajib mendustakannya. Misalnya di dalam Injil ada cerita-cerita tentang para Nabi dan Rasul dimana digambarkan para Nabi dan Rasul tersebut melakukan perbuatan yang tercela misalnya ada Nabi yang meminum minuman keras, dan sebagainya maka dengan tegas kita wajib mendustakan cerita tersebut karena para Nabi dan rasul merupakan manusia mulia pilihan Allah untuk menyeru manusia untuk beribadah kepada-Nya dan menganjurkan berbuat amal baik.
Jika di dalam Injil ada keterangan yang tidak ada keterangan di dalam al-Quran dan As-Sunnah maka kita tidak boleh membenarkannya dan juga tidak boleh mendustakannya. Misalnya di dalam Injil ada keterangan tentang kota Nabi Luth bernama Sodom dan Gomorah maka kita tidak boleh membenarkan dan juga tidak boleh mendustakan cerita itu.
Khatimah
Dari penjelasan di atas menjelaskan bahwa bumi itu diam, tidak bergerak dan ternyata matahari-lah yang mengelilingi bumi, dan ayat –ayat di atas merupakan bukti dan penjelasan yang kuat.Dan Allah telah membuktikan secara mantuq ( tersurat ) dan mafhum ( tersirat ).Dan ini merupakan keistimewaan Islam, karena segala sesuatu telah di jelaskan oleh Allah SWT.Apabila seseorang tidak dapat mengambil pelajaran dari Al-Qur’an dan Sunnah maka hatinya telah ditutup oleh Allah.Telah berlalu berbagai macam teori seperti teori charles darwin yang dihancurkan oleh teori Harun Yahya. Sebenarnya teori Galileo Galilei dan Ikhsan Newton yang menyatakan “Bumi mengelilingi matahari” lemah, akan tetapi belum ada yang mampu mematahkan teori itu, dan mereka mengklaim orang yang menentang teori itu adalah teori gereja.
MARAJI’
Al-Qur’anul Kariem
‘Abd al-Baqiy, Muhammad Fu’ad. Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’anul Karim. Bandung : Angkasa, t.th
Al-Alusi, Syihabbud-Dien Mahmud ibnu Abdullah Al-Husaini, Ruhul Ma’aniy fiy Tafsiril Qur’anil ‘adzim wa sab’il matsani, Maktabah Syamilah cet. 2 t.th
Al-Baghowi,Abu Ahmad Al-Husain bin Mas’ud. Ma’alim al-Tanzil, Arab Saudi:Darul Thaibah,1417 H./1997 M
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail Abu Abdillah. Shahih Bukhari. Maktabah Syamilah cet.2 t. th
Al-Utsaimin, Muhammad bin Sholeh. Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.)
An-Naisaburi, Muslim bin Al-Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairiy. Shahih Muslim. Maktabah Syamilah Cet. 2 t.th
Aristoteles. Physica, http : //en.wikipedia.org / wiki //, 8 april 2010
Ath-Thobari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Bin Yazid Bin Katsir Bin Gholib Al-Amali. Jami’ul Bayan fiy Ta’wilil Qur’an, Arab Saudi : Muassasah Ar-Risalah, 1420 H / 2000 M
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. ( Jakarta, Penerbit Agung, 2007.
Dzulqornain, Abu Muhammad. Heleosentris vs Geosentris, http: //annashihahpress.wordpress.com//,21 Maret 2010.
Ibn Katsir,’Imad al-Din Abi Fidha’ Isma’il bin ’Umar al-Qurasyiy al-Dimasyqiy. Tafsir Al-Qur’anul ’Adzim, Arab saudi:Darul Thaibah,1420 H / 1999 M
1 Ibnu Katsir,Tafsir Ibnu Katsir,Maktabah Darul Taibah cet.2 h. 558 Juz 6
2 Imam Baghowi,Tafsir Al-Baghowi,Maktabah Syamilah cet.2 h.13 Juz 5
3 Imam At-Thobari, Jami’ul Bayan fiy Ta’wilil Qur’an, Muassasah Risalah h. 133 Juz 20
4 Imam At-Thobari, Jami’ul Bayan fiy Ta’wilil Qur’an, Muassasah Risalah h. 133 Juz 20
5 Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.)
6 Sebagaimana pendapatnya Az-Zamakhsyari yang dinukilkan oleh Imam Al-Alusi di dalam kitab tafsirnya ketika beliau menafsirkan ayat ini.